Popeye vs Brutus

Jarang aku  bisa bercerita secara langsung pada saat tertekan. Selalu kutelan sendiri rasa pahit itu. Meskipun gelisah, namun terkadang aku merasa ga penting berbagi hal yang buruk ke orang lain. Terkesan mengeluh. Atau yang paling buruk adalah sepertinya aku sudah tahu apa yang akan mereka katakan. Tapi di samping itu juga aku merasa sepertinya tidak baik berbagi beban dan keluh kesah. Akan lebih indah bila kita berbagi berkat saja bukan?

Entahlah. Sepertinya cukup aku saja yang menanggungnya. Memikirkannya. Meskipun  itu terbawa untuk hal-hal lain, seperti pekerjaan misalnya. Aku tertegun saat partner kerjaku berkata, “Kak Mel sepertinya mengerjakan semuanya sendiri. Bingung sendiri. Di satu sisi aku kasihan, tapi aku juga bingung mau ngapain..

Benar juga. Sepertinya berbagi masalah adalah sebuah kompetensi yang harus dimasukkan dalam kamus kompetensi. Apalagi bagi seorang leader, gawat banget kalau segala sesuatu dilakukan sendirian. Selain bisa stress berat, kerjaan ngaco, ditambah teamnya ga bertumbuh juga.

Ya, entahlah. Aku harus mulai darimana untuk berubah. Mungkin bisa dimulai dari sini. Dari tulisan ini. Setidaknya aku berbagi perasaan, berbagi pikiran dengan siapapun yang akan membacanya. Setidaknya aku mengeluarkan emosi dan kepenatan itu dari pikiranku meskipun dalam rangkaian kata…

Gila! Benar-benar gila!

Berjuang untuk orang lain yang belum tentu “merasa” perlu dibantu. Mengerjakan semuanya, memikirkan siang dan malam. Menghubungi orang disana-sini untuk tukar pikiran. Pulang pergi Semanggi-Cakung (jarak 19,5 km-red) cuma buat koordinasi 30 menit, bahkan kurang. Dapat uang? Boro-boro, keluar uang iya! Punya uang buat biayain kegiatan? Gak juga. Cuma ada 7 juta dari 37 juta total kebutuhan. Dan sampai hari ini belum tau akan dapat dari mana sisanya…

Ya. Pelatihan guru SMP adalah satu hal yang ingin kulakukan dari dulu. Membangun dan meningkatkan kompetensi guru guna menjadi fasilitator dan teladan buat siswa. Tidak banyak guru yang benar-benar menjadi pendidik hari ini. Tidak banyak yg bangga akan profesinya sebagai guru. Jarang sekali yang yakin bahwa menjadi guru adalah panggilan hidupnya. Sehingga sulit sekali mereka bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Akibatnya? Ya, kita tahu sendiri berita yang beredar yang sanggup buat bulu kuduk kita merinding melihat produk pendidikan hari ini.

Kalau orang bertanya, kenapa mau lakukan itu? Itu kan tugas pemerintah…

Aku pun ga tahu kenapa. Rasanya harus aja kulakukan. Melihat kondisi generasi muda hari ini, rasanya lebih gila lagi kalo cuma duduk diam dan ga berbuat apa-apa. Dan apa yang kumengerti untuk kulakukan ya mulai kulakukan. Meskipun saat melangkah, itu tadi yang kualami. Makin melangkah mungkin makin ga mudah.

Mungkin ini yang namanya “Holy Discontent” ala Ps. Bill Hybels. “Ketidakpuasan Kudus” yang membuat Popeye marah besar dan berubah jadi gagah berani saat Olive diganggu oleh Brutus. Tapi Popeye perlu bayam super untuk bisa jadi gagah berani dan kuat melawan Brutus. Dan saat ini aku sungguh perlu bayam super itu.. Ya, God’s Words. Hanya perkataanNya yang bisa membuatku sangat kuat saat ini dan mampu mengalahkan semua kenyataan buruk yang kuhadapi di depan mataku.

popeye

 

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Aku harus bilang sama diriku sendiri : yang kulihat hari ini adalah sementara. Keadaan yang tidak mendukung, kondisi keuangan yang sangat kurang, menghadapi pilihan-pilihan sulit dan seringkali salah langkah, lelah, jenuh, takut, kesal dan segudang hal terlihat lainnya yang sementara saja. Yang sesungguhnya kekal adalah keberadaanNya bersamaku. Yang memampukan aku melewati dan menyelesaikan pertandingan ini dengan sempurna.

Ya, eksistensiNya kekal. PerkataanNya kekal. JanjiNya kekal. Meskipun belum terlihat hari ini. Tapi aku mau perhatikan itu. Aku mau makan bayam super itu!

Kan kukalahkan kau, Brutus!

 

 

Advertisements