A Self Talk

Siapakah lawan terbesar dalam meraih sukses masa depanmu? Ya, pasti kau tahu jawabannya.

Diri Sendiri.

Tapi tahukah kamu siapa yang di maksud dengan diri sendiri ?

Pengalaman masa lalumu..

Kebiasaan lamamu..

Persepsimu..

Traumamu..

Sensitifmu..

dan Semua ketakutan yang muncul di pikiranmu sendiri..

Semua yang terjadi dalam hidupmu memang meninggalkan jejak kehidupan. Tapi apa yang menantimu jauh lebih besar dan jauh lebih baik daripada apa yang pernah terjadi dalam hidupmu.

Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.

 

Kekuatan apa yang sesungguhnya mampu menggerakkanmu untuk terus melangkah? Kekuatan apa yang membuatmu dapat konsisten mengalahkan diri sendiri ? Karena kau harus jujur, bahwa perjuanganmu ga mudah. Energimu harus besar. Jauh lebih besar untuk mengalahkan trauma dan semua hal negatif itu.

Karena kau harus berani percaya. Percaya bahwa kau bisa. Percaya dan menerima dirimu sebagai orang yang berhasil.

 

Cuma satu yang bisa membuatmu kuat. Cuma satu yang bisa memberimu energi demikian besar. Cuma satu yang bisa memberikan jaminan itu.

Namanya adalah TUHAN.

Cuma pribadi yang paling kuat yang bisa memberimu kekuatan tanpa batas. Cuma pribadi yang paling besar dari segala sesuatu yang mampu mengatasi segalanya. Cuma pribadi yang menguasai ruang dan waktu yang bisa memberi jaminan keberhasilan. Karena Ia sudah ada disana dan ingin memberitahumu bahwa kamu juga ada di sana. Di masa depan yang cemerlang itu.

 

Bagiamana kalau kau lelah untuk berjuang? Bagaimana kalau kau tidak tahan akan rasa sakit saat melakukan perlawanan?

Akankah kau berhenti?

Semua memang keputusanmu. Berhenti untuk mengambil apa yang sudah pasti menjadi bagianmu. Berhenti dan menukarkan apa yang sementara dengan apa yang kekal. Rasanya pasti sayang sekali… Sayang sekali bila hal itu terjadi. Namun, satu hal yang pasti…

Ia yang memanggil kamu adalah setia. Ia juga akan menggenapinya.

Jadi, mari terus berjuang dan kalahkan diri sendiri.

Your Life is Your Battlefield

palestinian-marathon

Judul tulisan ini diinspirasi dari sebuah testimoni seorang leader di bisnis yang saya tekuni. Dia berkewarganegaraan Thailand. Dia menceritakan bahwa pencapaiannya hari ini bukan sesuatu yang instan dan terjadi begitu saja.

Kisahnya sangat menginspirasi saya.

Ia menderita kanker stadium 3, yang bagi sebagian besar orang merupakan penyakit yang menghantarkan ke pintu gerbang maut. Memang, hanya ada dua pilihan yang dimilikinya pada saat itu. Die or Live. Dan ia memilih untuk TETAP HIDUP.

Pilihannya untuk tetap hidup membuatnya mengerti artinya berjuang. Berjuang untuk melawan rasa sakitnya. Berjuang untuk melawan ketakutannya. Berjuang untuk percaya, bahwa ia masih punya kesempatan untuk memiliki hidup yang jauh lebih baik.

Pilihannya membawanya pada keputusan untuk bertindak. Berjuang, berperang, bekerja keras. Setiap hari. Dan mujizat itu nyata. Bukan hanya sembuh, melainkan dia dapat keliling dunia menunjukkan perubahan hidupnya sebagai Double Diamond Director di Thailand.

Seketika saya menyadari bahwa, your life is your battlefield.  Bukan untuk mendapatkan reward, melainkan untuk mengerti artinya perjuangan dan menjadi yang terbaik dari dirimu sendiri. Tanpa perjuangan kita tidak dapat mengerti artinya pencapaian. Tanpa sakit, kita tidak memahami artinya sehat. Tanpa kesedihan, kita tidak sepenuhnya memahami artinya kebahagiaan.

Iman Kristen saya mengajarkan bahwa “kita lebih dari pemenang” artinya bahwa ada Pribadi yang telah menyelesaikan pertandingan kita  karena Ia mengasihi kita.

Pemenang adalah orang yang menyelesaikan pertandingan dan mendapatkan hadiahnya.Lebih dari pemenang adalah mendapatkan hadiah dari orang yang sudah menyelesaikan pertandingan untuknya.

Saya memegang iman ini. Saya sangat percaya bahwa pertandingan saya sudah selesai dan sempurna. Namun saya menyadari bahwa Pribadi itu tidak membiarkan perjuangan yang sudah Ia lakukan menjadi sia-sia. Ia mengajarkan saya untuk memahami perjuangan itu bukan suatu hal yang mudah dan murah. Ia mendorong saya untuk berani melangkah dalam battlefield, karena sebenarnya saya sudah memenangkannya. Saya hanya diminta untuk merasakan ‘suasananya’. Dan pada akhirnya, saya benar-benar memaknai arti dari sebuah pencapaian dan kemenangan sejati. Cara pandang saya berubah. Cara hidup saya berubah. Cara beribadah saya berubah.

Yes, my life is my battlefield, yet i am more than the Conqueror!

 

 

 

 

 

Popeye vs Brutus

Jarang aku  bisa bercerita secara langsung pada saat tertekan. Selalu kutelan sendiri rasa pahit itu. Meskipun gelisah, namun terkadang aku merasa ga penting berbagi hal yang buruk ke orang lain. Terkesan mengeluh. Atau yang paling buruk adalah sepertinya aku sudah tahu apa yang akan mereka katakan. Tapi di samping itu juga aku merasa sepertinya tidak baik berbagi beban dan keluh kesah. Akan lebih indah bila kita berbagi berkat saja bukan?

Entahlah. Sepertinya cukup aku saja yang menanggungnya. Memikirkannya. Meskipun  itu terbawa untuk hal-hal lain, seperti pekerjaan misalnya. Aku tertegun saat partner kerjaku berkata, “Kak Mel sepertinya mengerjakan semuanya sendiri. Bingung sendiri. Di satu sisi aku kasihan, tapi aku juga bingung mau ngapain..

Benar juga. Sepertinya berbagi masalah adalah sebuah kompetensi yang harus dimasukkan dalam kamus kompetensi. Apalagi bagi seorang leader, gawat banget kalau segala sesuatu dilakukan sendirian. Selain bisa stress berat, kerjaan ngaco, ditambah teamnya ga bertumbuh juga.

Ya, entahlah. Aku harus mulai darimana untuk berubah. Mungkin bisa dimulai dari sini. Dari tulisan ini. Setidaknya aku berbagi perasaan, berbagi pikiran dengan siapapun yang akan membacanya. Setidaknya aku mengeluarkan emosi dan kepenatan itu dari pikiranku meskipun dalam rangkaian kata…

Gila! Benar-benar gila!

Berjuang untuk orang lain yang belum tentu “merasa” perlu dibantu. Mengerjakan semuanya, memikirkan siang dan malam. Menghubungi orang disana-sini untuk tukar pikiran. Pulang pergi Semanggi-Cakung (jarak 19,5 km-red) cuma buat koordinasi 30 menit, bahkan kurang. Dapat uang? Boro-boro, keluar uang iya! Punya uang buat biayain kegiatan? Gak juga. Cuma ada 7 juta dari 37 juta total kebutuhan. Dan sampai hari ini belum tau akan dapat dari mana sisanya…

Ya. Pelatihan guru SMP adalah satu hal yang ingin kulakukan dari dulu. Membangun dan meningkatkan kompetensi guru guna menjadi fasilitator dan teladan buat siswa. Tidak banyak guru yang benar-benar menjadi pendidik hari ini. Tidak banyak yg bangga akan profesinya sebagai guru. Jarang sekali yang yakin bahwa menjadi guru adalah panggilan hidupnya. Sehingga sulit sekali mereka bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya. Akibatnya? Ya, kita tahu sendiri berita yang beredar yang sanggup buat bulu kuduk kita merinding melihat produk pendidikan hari ini.

Kalau orang bertanya, kenapa mau lakukan itu? Itu kan tugas pemerintah…

Aku pun ga tahu kenapa. Rasanya harus aja kulakukan. Melihat kondisi generasi muda hari ini, rasanya lebih gila lagi kalo cuma duduk diam dan ga berbuat apa-apa. Dan apa yang kumengerti untuk kulakukan ya mulai kulakukan. Meskipun saat melangkah, itu tadi yang kualami. Makin melangkah mungkin makin ga mudah.

Mungkin ini yang namanya “Holy Discontent” ala Ps. Bill Hybels. “Ketidakpuasan Kudus” yang membuat Popeye marah besar dan berubah jadi gagah berani saat Olive diganggu oleh Brutus. Tapi Popeye perlu bayam super untuk bisa jadi gagah berani dan kuat melawan Brutus. Dan saat ini aku sungguh perlu bayam super itu.. Ya, God’s Words. Hanya perkataanNya yang bisa membuatku sangat kuat saat ini dan mampu mengalahkan semua kenyataan buruk yang kuhadapi di depan mataku.

popeye

 

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Aku harus bilang sama diriku sendiri : yang kulihat hari ini adalah sementara. Keadaan yang tidak mendukung, kondisi keuangan yang sangat kurang, menghadapi pilihan-pilihan sulit dan seringkali salah langkah, lelah, jenuh, takut, kesal dan segudang hal terlihat lainnya yang sementara saja. Yang sesungguhnya kekal adalah keberadaanNya bersamaku. Yang memampukan aku melewati dan menyelesaikan pertandingan ini dengan sempurna.

Ya, eksistensiNya kekal. PerkataanNya kekal. JanjiNya kekal. Meskipun belum terlihat hari ini. Tapi aku mau perhatikan itu. Aku mau makan bayam super itu!

Kan kukalahkan kau, Brutus!