Hai Orangtua, Bertobatlah!

Kemarin aku membaca sebuah tulisan, sebuah cerita nyata yang dialami oleh seorang wanita di rumah sakit, mendapati ada anak kecil mengatakan hal yang tidak senonoh, yang tidak semestinya anak kelas 3 SD tahu istilah itu.

Ibu ini menceritakan bagaimana ia begitu terkejut-kejut mendapati anak itu bisa mengetahui banyak hal tentang pornografi. Ternyata kakaknya yang masih kelas 2 SMA yang mengajarkannya tentang istilah- istilah porno dan menunjukkan gambar dan video hubungan intim orang dewasa. Aku yang membaca saja tulisan itu sambil menahan nafas, bagaimana rasanya ibu yang mendengar secara langsung penuturan anak kecil itu…

Ibu itu menanyakan apakah orang tua nya mengetahui akan hal itu? Ternyata justru dari hp orang tuanya lah kakak dari anak ini menunjukkannya sehingga dia mengerti semuanya..

Menetes air mataku membaca cerita itu. Sakit rasanya hati ini menerima kenyataan bahwa, benar… Kerusakan moral anak-anak adalah karena rusaknya moral orang tuanya sendiri. Ada kebencian yang kurasakan atas pornografi yang merusak akal sehat dan hati nurani.

Begitu jahatnya candu seksual ini hingga dapat merusak moral seluruh generasi. Aku mengalami sendiri yang namanya pelecehan seksual saat kecil. Dan hal itu menyakitkan.. Aku mengalami sendiri yang namanya pengaruh pergaulan buruk hingga jatuh dalam pornografi. Dan hal itu sangat menjijikan..

Tapi aku sangat beruntung. Aku diselamatkan dari jurang maut ini. Tuhanku yang hidup mengangkat dan menyembuhkanku sempurna. Tak bisa kubayangkan bagaimana hidupku tanpa pertolonganNya. Aku diampuni dan dipulihkan hingga aku bisa mengampuni dan memulihkan orang lain.

Kini membaca tulisan itu, mengoyakkan hatiku lagi.. Betapa jahatnya pornografi merusak generasi. Ingin rasanya aku berteriak : HENTIKAN!!

Kemarahan sungguh memenuhi hatiku, sekaligus kesedihan akan mereka yang masih terjerumus dan terikat. Kisah tragis Yuyun dan banyak anak-anak lain korban pemerkosaan menjadi akibat dari jahatnya dosa ini. Orang tua yang sekarang adalah produk dari kecanduan pornografi sejak masa muda mereka. Sementara anak-anak mereka saat ini suatu saat akan bertumbuh menjadi orang tua yang sama seperti mereka..

Hai orangtua, bertobatlah!

Kalian tidak pernah sadar bahwa kecanduan pornografimu, menyimpan video dan gambar mesum di hp mu dapat membawa kecanduan yang sama, bahkan lebih parah kepada anak-anak mu. Kalian tidak akan pernah membayangkan betapa merusaknya tindakan kalian terhadap anak-anakmu..

Stop pornografi!

Selamatkan generasi, mulai dari keluarga!

Advertisements

my first love

Aku pertama kali melihatnya 27 tahun yang lalu. Tapi mungkin baru benar-benar mengenalnya sekitar belasan tahun. Yah, tentu dibutuhkan proses untuk mengenal orang lain dan menurutku ini adalah proses seumur hidup. Dimataku, ia merupakan sesosok pria yang hangat, lucu, populer, namun romantis. Tidak sulit menemukannya dalam sebuah kumpulan keramaian, karena pasti ada disana sebagai salah satu penyebab gegap gempitanya kumpulan tersebut. Harus bersabar bila ia sudah berkumpul bersama teman-temannya, karena dapat dipastikan pembicaraan akan berlangsung panjang dan lama.

Hal yang paling kusukai adalah kemampuannya untuk melihat sebuah hal dalam perspektif yang berbeda. Ia seringkali tidak melihat dari sisi orang kebanyakan. Mungkin hal ini yang membuatnya sering dijadikan tempat orang-orang untuk bertukar pikiran. Menariknya, ia bukanlah orang yang suka memaksakan pendapatnya, ia menyukai dan menghargai perbedaan pendapat. Bagiku, ia pandai sekali berdiplomasi, menyampaikan ide dan gagasannya secara persuasif tanpa membuat orang lain merasa dipaksa untuk menelan pemikirannya. Hebat!

Sebagai seorang wanita, melihat cowok yang jago main gitar klasik itu keren banget ya pastinya. Ditambah suaranya bagus dan pinter melukis pula. Diajak ngobrol pakai bahasa Inggris? Jangan, ditanya.. Doi tutor di lembaga kursus bahasa ternama. Perfecto!

girl-hugging-dad-with-i-love-you-card

Hari ini, aku menuliskan notes ini sebagai sebuah ungkapan hatiku. Betapa bersyukurnya aku bisa berkata,

My Dad, is My First Love

Aku bangga menyebut cinta pertamaku adalah Papaku. Semua alasan yang kusebutkan tadi memang benar, itu kepribadian Papa yang kusukai. Tapi apa yang sesungguhnya menjadi alasanku adalah, karena Papa mencintai dan mengasihi Mama dengan setulus hati. Meskipun tidak sempurna, masih ada kecekcokan disana-sini, tapi aku menjadi mengerti bagaimana seorang Pria dapat mengasihi wanitanya dengan sungguh. Padahal Papa dan Mama memiliki kepribadian yang sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Setelah dewasa rasanya sulit membayangkan bisa hidup bersama pasangan yang punya kepribadian begitu berbeda. Namun melihat teladan mereka, aku mengerti bagaimana cinta dapat meretas perbedaan 🙂

Di hari spesialmu, sejujurnya aku sedih karena belum bisa memberikan apa-apa. Tapi aku berjanji, gadismu ini akan mengukir kisah manis yang akan selalu bisa kau banggakan.

I promise you 🙂

And last but not least, i wanna say..

dad

 

 

Organisasi Pembelajar

Belakangan ini saya merenungkan mengenai Learning Organization atau Organisasi Pembelajar. Menurut saya menarik sekali apabila setiap organisasi, baik itu Profit Organization ataupun Non Profit Organization menjadi Organisasi Pembelajar. Dapat dipastikan Indonesia akan jauh lebih maju dan jauh lebih cepat mengungguli negara-negara berkembang lainnya. Learning Organization pertama kali dikonsepkan oleh Peter Senge dalam bukunya “The Fifth Discipline : The Art and Practice of The Learning Organization”

Menurut Peter Senge (1990) organisasi pembelajar adalah organisasi dimana orang terus-menerus memperluas kapasitas mereka untuk menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola baru dan ekspansi pemikiran diasuh, dimana aspirasi kolektif dibebaskan, dan dimana orang terus-menerus belajar melihat bersama-sama secara menyeluruh. Alasan dasar untuk organisasi tersebut adalah bahwa dalam situasi perubahan yang cepat hanya mereka yang fleksibel, adaptif dan produktif yang dapat bertahan. Agar hal ini terjadi, ia berpendapat bahwa organisasi perlu menemukan bagaimana menggunakan komitmen dan kapasitas untuk belajar pada semua level.

Untuk Peter Senge, belajar yang nyata adalah sampai ke hakekat apa artinya menjadi manusia. Kita menjadi mampu untuk menciptakan kembali diri kita sendiri. Hal ini berlaku untuk baik individu dan organisasi. Jadi, untuk sebuah organisasi pembelajar tidak cukup untuk bertahan hidup.

”Belajar Survival” atau yang lebih sering disebut “belajar adaptif” adalah penting dan memang itu perlu. Tapi bagi organisasi pembelajar, “belajar adaptif” harus digabungkan dengan “belajar generatif”, belajar yang meningkatkan kapasitas kita untuk menciptakan.

Menarik apa yang dikemukakan oleh Peter Senge mengenai Organisasi Pembelajar ini. Ia menjelaskan bahwa terdapat 5 Disiplin yang harus dikembangkan untuk membangun Organisasi Pembelajar : Personal Mastery, Mental Models, Shared Vision, Team Learning, and System Thinking. Kelima disiplin tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Namun buat saya, poin ketiga yaitu Shared Vision merupakan poin yang penting dan menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Visi memampukan organisasi terus-menerus memperluas kapasitas untuk menciptakan masa depan mereka. Orang-orang berbicara tentang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Visi memiliki kekuatan untuk meningkatkan iman dan untuk mendorong eksperimentasi dan inovasi. Shared Vision melibatkan keterampilan menggali bersama ‘gambar masa depan’ bahwa komitmen dan pengharapan adalah motif dasar manusia untuk terus berkembang bukan hanya karena alasan kepatuhan.

Tesis yang saya tulis berkaitan dengan teori Senge, yaitu kapabilitas perusahaan (termasuk didalamnya Shared Vision) mempengaruhi dampak sustainability dan profitability perusahaan. Dalam tesis saya ditemukan bahwa praktek di lapangan tidak semulus pada teori, terdapat berbagai kendala yang menyebabkan visi dan misi perusahaan tidak sepenuhnya ditangkap oleh seluruh anggota organisasi. Dibutuhkan pemimpin yang kuat untuk dapat membawa visi organisasi sampai kepada seluruh anggotanya.

Untuk itulah dalam sebuah Learning Organization dibutuhkan pemimpin yang terus mau belajar dan bertumbuh.

learning organization

Bisa Karena Biasa

 

diary

Dulu, kalau saya ditanya, “Apakah kamu tertarik mengikuti pelatihan menulis?” pasti jawaban saya, “Tidak.” Karena menulis itu bukan hal yang menarik untuk dipelajari dan tidak memerlukan keterampilan khusus. Selain itu juga karena saya merasa lebih ‘jago’ ngomong dibanding nulis.

Menulis, saya orang yang suka menggumam dalam hati. Seringkali sambil berjalan kaki, pikiran saya mulai merangkai kata, merenungkan kejadian demi kejadian di sepanjang hari.

Terkadang pemikiran-pemikiran itu memang saya tuliskan di catatan pribadi. Poin-poin yang saya tuliskan biasanya tentang lesson learned melalui kejadian yang saya alami. That’s it!. Sudah cukup plong rasanya memindahkan isi kepala ke dalam tulisan untuk dibaca sendiri.

3-4 tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang Pendeta dari luar negeri,beliau mendoakan saya akan menjadi penulis yang memberkati banyak orang. Shock? Tentu saja.

Bagaimana caranya saya bisa menjadi seorang penulis buku best seller dan mendunia seperti itu wong menulis saja ndak pernah, pikir saya.

Beberapa waktu kemudian, hal senada disampaikan atasan saya, pribadi yang sangat saya kagumi dan hormati – beliau penulis – menyatakan, “Mellisa punya kemampuan linguistik dan tata bahasa yang bagus, itu bisa jadi modal seorang penulis!”

Merenungkan pernyataan-pernyataan kedua pribadi yang saya temui itu, membuat diri saya mulai melihat dari perspektif yang berbeda. Kalau mimpi saya ingin menjadi seseorang yang bisa berdampak dan meninggalkan warisan kepada banyak orang, itu artinya saya harus mempunyai banyak tulisan yang bisa dibaca banyak orang pula. Yah! Tulisan itu sebaiknya memang untuk dibaca. Tulisan tidak akan bermakna bila pesannya tidak sampai kepada pembaca.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer

Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengenal teman-teman yang mempunyai kecintaan terhadap dunia menulis. Bertukar pikiran dan pengalaman tentang hal ini membuat saya semakin terdorong untuk lebih lagi belajar tentang menulis.

Tuhan memang baik dan tidak pernah ada kejadian yang kebetulan dalam hidup kita. Melalui teman-teman ‘baru’ inilah saya mengerti makna kutipan di atas, tulisan itu warisan yang abadi.

Kembali saya merenungkan apa sebenarnya yang menghalangi saya untuk berani menulis dan dibaca orang lain? Poin kedua ternyata yang lebih menjadi alasannya. Takut dibaca, takut dinilai tidak berbobot!

Suatu kali saya bertanya pada teman saya, “Bang, pernah nggak khawatir bakal dinilai buruk karena tulisanmu?” Jawabannya, “Itu cinta yang harus aku bayar, Mel. Nggak bisa itu membatasiku untuk terus share kebaikan Tuhan. DIA lebih besar dari hal-hal buruk yang diketahui orang dariku.”

Ini seharusnya yang terus saya pikirkan saat menulis. Kalau saya bisa menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidup saya, meskipun itu melakukan kebodohan sekalipun, biarlah orang lain bisa mengenal Tuhan dan belajar dari kisah yang saya alami.

Kalau ditanya kapan saya akan mulai menulis? Sekarang!. Meskipun belum bagus juga belum enak dibaca tapi akan terus mencoba. Menulis itu aksi, bukan ilusi. Menulis itu bisa karena biasa!