Organisasi Pembelajar

Belakangan ini saya merenungkan mengenai Learning Organization atau Organisasi Pembelajar. Menurut saya menarik sekali apabila setiap organisasi, baik itu Profit Organization ataupun Non Profit Organization menjadi Organisasi Pembelajar. Dapat dipastikan Indonesia akan jauh lebih maju dan jauh lebih cepat mengungguli negara-negara berkembang lainnya. Learning Organization pertama kali dikonsepkan oleh Peter Senge dalam bukunya “The Fifth Discipline : The Art and Practice of The Learning Organization”

Menurut Peter Senge (1990) organisasi pembelajar adalah organisasi dimana orang terus-menerus memperluas kapasitas mereka untuk menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, dimana pola baru dan ekspansi pemikiran diasuh, dimana aspirasi kolektif dibebaskan, dan dimana orang terus-menerus belajar melihat bersama-sama secara menyeluruh. Alasan dasar untuk organisasi tersebut adalah bahwa dalam situasi perubahan yang cepat hanya mereka yang fleksibel, adaptif dan produktif yang dapat bertahan. Agar hal ini terjadi, ia berpendapat bahwa organisasi perlu menemukan bagaimana menggunakan komitmen dan kapasitas untuk belajar pada semua level.

Untuk Peter Senge, belajar yang nyata adalah sampai ke hakekat apa artinya menjadi manusia. Kita menjadi mampu untuk menciptakan kembali diri kita sendiri. Hal ini berlaku untuk baik individu dan organisasi. Jadi, untuk sebuah organisasi pembelajar tidak cukup untuk bertahan hidup.

”Belajar Survival” atau yang lebih sering disebut “belajar adaptif” adalah penting dan memang itu perlu. Tapi bagi organisasi pembelajar, “belajar adaptif” harus digabungkan dengan “belajar generatif”, belajar yang meningkatkan kapasitas kita untuk menciptakan.

Menarik apa yang dikemukakan oleh Peter Senge mengenai Organisasi Pembelajar ini. Ia menjelaskan bahwa terdapat 5 Disiplin yang harus dikembangkan untuk membangun Organisasi Pembelajar : Personal Mastery, Mental Models, Shared Vision, Team Learning, and System Thinking. Kelima disiplin tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Namun buat saya, poin ketiga yaitu Shared Vision merupakan poin yang penting dan menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Visi memampukan organisasi terus-menerus memperluas kapasitas untuk menciptakan masa depan mereka. Orang-orang berbicara tentang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Visi memiliki kekuatan untuk meningkatkan iman dan untuk mendorong eksperimentasi dan inovasi. Shared Vision melibatkan keterampilan menggali bersama ‘gambar masa depan’ bahwa komitmen dan pengharapan adalah motif dasar manusia untuk terus berkembang bukan hanya karena alasan kepatuhan.

Tesis yang saya tulis berkaitan dengan teori Senge, yaitu kapabilitas perusahaan (termasuk didalamnya Shared Vision) mempengaruhi dampak sustainability dan profitability perusahaan. Dalam tesis saya ditemukan bahwa praktek di lapangan tidak semulus pada teori, terdapat berbagai kendala yang menyebabkan visi dan misi perusahaan tidak sepenuhnya ditangkap oleh seluruh anggota organisasi. Dibutuhkan pemimpin yang kuat untuk dapat membawa visi organisasi sampai kepada seluruh anggotanya.

Untuk itulah dalam sebuah Learning Organization dibutuhkan pemimpin yang terus mau belajar dan bertumbuh.

learning organization