Your Life is Your Battlefield

palestinian-marathon

Judul tulisan ini diinspirasi dari sebuah testimoni seorang leader di bisnis yang saya tekuni. Dia berkewarganegaraan Thailand. Dia menceritakan bahwa pencapaiannya hari ini bukan sesuatu yang instan dan terjadi begitu saja.

Kisahnya sangat menginspirasi saya.

Ia menderita kanker stadium 3, yang bagi sebagian besar orang merupakan penyakit yang menghantarkan ke pintu gerbang maut. Memang, hanya ada dua pilihan yang dimilikinya pada saat itu. Die or Live. Dan ia memilih untuk TETAP HIDUP.

Pilihannya untuk tetap hidup membuatnya mengerti artinya berjuang. Berjuang untuk melawan rasa sakitnya. Berjuang untuk melawan ketakutannya. Berjuang untuk percaya, bahwa ia masih punya kesempatan untuk memiliki hidup yang jauh lebih baik.

Pilihannya membawanya pada keputusan untuk bertindak. Berjuang, berperang, bekerja keras. Setiap hari. Dan mujizat itu nyata. Bukan hanya sembuh, melainkan dia dapat keliling dunia menunjukkan perubahan hidupnya sebagai Double Diamond Director di Thailand.

Seketika saya menyadari bahwa, your life is your battlefield.  Bukan untuk mendapatkan reward, melainkan untuk mengerti artinya perjuangan dan menjadi yang terbaik dari dirimu sendiri. Tanpa perjuangan kita tidak dapat mengerti artinya pencapaian. Tanpa sakit, kita tidak memahami artinya sehat. Tanpa kesedihan, kita tidak sepenuhnya memahami artinya kebahagiaan.

Iman Kristen saya mengajarkan bahwa “kita lebih dari pemenang” artinya bahwa ada Pribadi yang telah menyelesaikan pertandingan kita  karena Ia mengasihi kita.

Pemenang adalah orang yang menyelesaikan pertandingan dan mendapatkan hadiahnya.Lebih dari pemenang adalah mendapatkan hadiah dari orang yang sudah menyelesaikan pertandingan untuknya.

Saya memegang iman ini. Saya sangat percaya bahwa pertandingan saya sudah selesai dan sempurna. Namun saya menyadari bahwa Pribadi itu tidak membiarkan perjuangan yang sudah Ia lakukan menjadi sia-sia. Ia mengajarkan saya untuk memahami perjuangan itu bukan suatu hal yang mudah dan murah. Ia mendorong saya untuk berani melangkah dalam battlefield, karena sebenarnya saya sudah memenangkannya. Saya hanya diminta untuk merasakan ‘suasananya’. Dan pada akhirnya, saya benar-benar memaknai arti dari sebuah pencapaian dan kemenangan sejati. Cara pandang saya berubah. Cara hidup saya berubah. Cara beribadah saya berubah.

Yes, my life is my battlefield, yet i am more than the Conqueror!

 

 

 

 

 

#indONEsia

Belakangan ini rame banget soal isu perpecahan, perbedaan, permusuhan, lala lili..
Lalu kemarin dapat postingan keren soal “Sop Ayam Vs Gado-Gado” nya Bu Weilin Han yang bikin laper seketika. Tapi tulisan itu bener sih, menginspirasi.

Kita semua ga bakalan bisa hidup tanpa interaksi dengan orang-orang yang berbeda dari kita. Dari kecil, bahkan dari kita lahir pasti dibantuin sama orang lain yang pastinya beda dalam banyak hal dengan kita. Dokter, bidan, perawat, guru.. semua orang yang berjasa sama kita, emang bisa kita pilih-pilih? Mau yang SAMA aja. Tapi memang manusiawi sih orang akan lebih nyaman bergaul dengan yang “sama” daripada yang “beda”.

Hm, sedikit throw back. Dari kecil saya punya kisah yang “berbeda” dari keluarga besar. Rata-rata di keluargaku, anak-anaknya sekolah di swasta which is secara lingkungan sebagian besar pasti homogen. Tapi anehnya, Papa Mama masukin aku ke SD Negeri, Inpres pula deket rumah (dulu sih, sekarang udah jadi SD unggulan). Alasannya cuma satu, supaya aku ga telat mulu kalo berangkat sekolah..
Papa Mama menuai banyak kritikan saat itu, apalagi dari Emak (oma-red).
“Mau jadi apa anakmu nanti bergaul dengan yang ga jelas?”, gitu katanya dulu..

Entah keyakinan apa yang mendorong mereka saat itu, Papa cuma bilang “Pergaulan yang luas akan membuat anak kita menjadi lebih siap melihat dunia. Lisa akan bisa beradaptasi dengan semuanya.”

Keyakinan Papa terbukti. Sepanjang 6 tahun sekolah disana, aku punya banyak sahabat dengan latar belakang yang berbeda-beda suku, agama, profesi orang tua. Saking seringnya main sama mereka aku dibilang “penjual cabe” sama kakak ku.. karena kulitku tambah item, rambutku tambah merah, bau matahari.. haha
Kadang aku sering dipanggil “Cina” sama mereka, tapi anehnya aku ga merasa sakit hati.. lha emang iya kok, pikirku..

Makin dewasa, aku bersyukur bisa kuliah di kampus yang mahasiswanya dari Sabang sampai Merauke ada. Dari sejak tingkat satu, tinggal se-asrama sama temen yang dari Riau, Lampung, Majalengka dan beda agama. Aku aktif di persekutuan kampus, temenku pun pengurus inti di organisasinya. Ga ada masalah.

Eniwei, perbedaan pun masih ditemukan di persekutuan. Dibilang hanya ada dua suku di PMK ini, Batak dan Non Batak. Saking banyaknya orang Barat ini di IPB.. alias Batak Rantau 😀
Tapi aku pun menikmatinya. Banyak bergaul dengan mereka membuatku mengenal Indonesia jauh lebih baik dan membuatku jatuh cinta pada Indonesia lebih lagi.

Hari ini, masih dikasih kesempatan untuk bisa berbuat sesuatu untuk Indonesia adalah kehormatan. Indonesia itu Sabang sampai Merauke, Rote sampai Talaud. Kalau ditanya, pengen travelling kemana Mel? Tanpa ragu akan jawab, keliling seluruh pulau di Indonesia!