Bisa Karena Biasa

 

diary

Dulu, kalau saya ditanya, “Apakah kamu tertarik mengikuti pelatihan menulis?” pasti jawaban saya, “Tidak.” Karena menulis itu bukan hal yang menarik untuk dipelajari dan tidak memerlukan keterampilan khusus. Selain itu juga karena saya merasa lebih ‘jago’ ngomong dibanding nulis.

Menulis, saya orang yang suka menggumam dalam hati. Seringkali sambil berjalan kaki, pikiran saya mulai merangkai kata, merenungkan kejadian demi kejadian di sepanjang hari.

Terkadang pemikiran-pemikiran itu memang saya tuliskan di catatan pribadi. Poin-poin yang saya tuliskan biasanya tentang lesson learned melalui kejadian yang saya alami. That’s it!. Sudah cukup plong rasanya memindahkan isi kepala ke dalam tulisan untuk dibaca sendiri.

3-4 tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang Pendeta dari luar negeri,beliau mendoakan saya akan menjadi penulis yang memberkati banyak orang. Shock? Tentu saja.

Bagaimana caranya saya bisa menjadi seorang penulis buku best seller dan mendunia seperti itu wong menulis saja ndak pernah, pikir saya.

Beberapa waktu kemudian, hal senada disampaikan atasan saya, pribadi yang sangat saya kagumi dan hormati – beliau penulis – menyatakan, “Mellisa punya kemampuan linguistik dan tata bahasa yang bagus, itu bisa jadi modal seorang penulis!”

Merenungkan pernyataan-pernyataan kedua pribadi yang saya temui itu, membuat diri saya mulai melihat dari perspektif yang berbeda. Kalau mimpi saya ingin menjadi seseorang yang bisa berdampak dan meninggalkan warisan kepada banyak orang, itu artinya saya harus mempunyai banyak tulisan yang bisa dibaca banyak orang pula. Yah! Tulisan itu sebaiknya memang untuk dibaca. Tulisan tidak akan bermakna bila pesannya tidak sampai kepada pembaca.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Pramoedya Ananta Toer

Sekitar satu bulan yang lalu, saya mengenal teman-teman yang mempunyai kecintaan terhadap dunia menulis. Bertukar pikiran dan pengalaman tentang hal ini membuat saya semakin terdorong untuk lebih lagi belajar tentang menulis.

Tuhan memang baik dan tidak pernah ada kejadian yang kebetulan dalam hidup kita. Melalui teman-teman ‘baru’ inilah saya mengerti makna kutipan di atas, tulisan itu warisan yang abadi.

Kembali saya merenungkan apa sebenarnya yang menghalangi saya untuk berani menulis dan dibaca orang lain? Poin kedua ternyata yang lebih menjadi alasannya. Takut dibaca, takut dinilai tidak berbobot!

Suatu kali saya bertanya pada teman saya, “Bang, pernah nggak khawatir bakal dinilai buruk karena tulisanmu?” Jawabannya, “Itu cinta yang harus aku bayar, Mel. Nggak bisa itu membatasiku untuk terus share kebaikan Tuhan. DIA lebih besar dari hal-hal buruk yang diketahui orang dariku.”

Ini seharusnya yang terus saya pikirkan saat menulis. Kalau saya bisa menceritakan kebaikan Tuhan dalam hidup saya, meskipun itu melakukan kebodohan sekalipun, biarlah orang lain bisa mengenal Tuhan dan belajar dari kisah yang saya alami.

Kalau ditanya kapan saya akan mulai menulis? Sekarang!. Meskipun belum bagus juga belum enak dibaca tapi akan terus mencoba. Menulis itu aksi, bukan ilusi. Menulis itu bisa karena biasa!

Advertisements

7 thoughts on “Bisa Karena Biasa

    1. Hai Mas Mortyfox! Wah, ga nyangka ada yang nge-like dan comment.. haha
      Padahal belum berani di share sebenernya, masih newbie a.k.a baby banget dalam dunia per-wordpress-an
      Makasih mas, eniwei blognya keren banget.. boleh berguru ya mas 🙂

      Liked by 1 person

  1. Gegara baca ini saya nampaknya hrs step-up ya Mel.
    Berjalan bersisian pd tujuan yg serempak seirama.
    Thanks for this inspiration anyway non 😉
    Let the journey begin!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s